Bendera Pusaka

Bendera Pusaka

Bendera adalah secarik kain yang berisikan bentukan atau warna yang dipasangkan pada seutas tali atau tiang yang melambangkan suatu organisasi atau negara. Undang – undang yang menjelaskan tentang arti bendera adalah PP no. 40 tahun 1958.

 

Bendera merah putih dijahit pertama kali oleh ibu Fatmawati yang pada waktu itu beliau adalah istri Presiden Ir. Soekarno. Warna merah putih di ambil dari berbagai sumber salah satunya banyak gambar atau relief peninggalan prasejarah dan sejarah yang menggunakan kain berwarna merah putih sebagai simbol atau gambar. Selain itu juga diambil dari sebuah kejadian yang disebut Peristiwa Bendera atau Tragedi Bendera, pada saat itu pejuang Indonesia menyerang Belanda di Hotel Yamato dan pejuang berhasil ke puncak menara hotel tersebut dan merebut bendera Belanda lalu merobek kain yang berwarna biru sehingga jadilah bendera merah putih yang setelah itu dikibarkan kembali.

 

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hari jumat, 17 Agustus 1945, jam 10:00 dijalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Setelah pernyataan Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya secara resmi bendera kebangsaan merah putih dikibarkan oleh dua orang muda mudi dan di pimpin Bapak Latief Hendradiningrat. Bendera ini di jahit tangan oleh ibu Fatmawati Soekarno dan bendera ini pula yang kemudian disebut “ Bendera Pusaka”

 

Bendera pusaka berkibar siang dan malam ditengah hujan tembakan sampai ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

 

Pada tanggal 4 Januari 1946 karena ada aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, maka presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta.

 

Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukan dalam kopor pribadi Presiden Soekarno. Selanjutnya ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

 

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarakan agresinya yang kedua. Pada saat Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Bapak Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soekarno dan di tugaskan untuk menyelamatkan Bendera Pusaka. Penyelamatan Bendera Pusaka ini merupakan salah satu bagian dari sejarah untuk menegakkan berkibarnya Sang Merah Putih di persada bumi Indonesia.

Untuk menyelamatkan Bendera Pusaka itu, terpaksa Bapak Hussein Mutahar harus memisahkan antara bagian merah dan putihnya.Untuk mengetahui saat-saat penyelamatan Bendera Pusaka, maka terjadi percakapan yang merupakan perjanjian pribadi antara Presiden Soekarno dan Bapak Hussein Mutahar yang terdapat dalam Buku Bung Karno “ Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams :

 

“Tindakanku yang terakhir adalah memanggil Mutahar ke kamarku ( Presiden Soekarno, Pen ).” Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu,”kataku ringkas. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga Bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Disatu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapapun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan Bendera ini, percayakan tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkan ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya. Mutahar terdiam, Ia memejamkan matanya dan berdoa disekeliling kami bom berjatuhan. Tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota. Tanggungjawabnya sungguh berat, akhirnya ia memecahkan kesulitan ini dengan mencabut benang jahitan yang memisahkan kedua belahan dari Bendera itu.”

 

Akhirnya dengan bantuan Ibu Perna Dinata benang jahitan antara Bendera Pusaka yang telah dijahit tangan Ibu Fatmwati Soekarno berhasil dipisahkan. Setelah Bendera Pusaka dipisahkan menjadi dua maka masing-masing bagian yaitu merah dan putih dimasukan pada dasar dua tas milik Bapak Hussein Mutahar, selanjutnya pada kedua tas tersebut dimasukan seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya. Bendera Pusaka ini dipisah menjadi dua karena Bapak Mutahar mempunyai pemikiran bahwa apabila Bendera Pusaka ini dipisah maka tidak dapat disebut Bendera, karena hanya berupa dua carik kain merah dan putih. Hal ini untuk menghindari penyitaan dari pihak Belanda.

 

Setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta ditangkap dan diasingkan, kemudian Bapak Hussein Mutahar dan beberapa staf Kepresidenan juga ditangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mereka di bawa ke Semarang dan di tahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Bapak Hussein Mutahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

 

Di Jakarta beliau menginap dirumah Bapak R. Said Soekanto Tjokroaminoto ( Kapolri I ). Beliau selalu mencari informasi bagaimana caranya agar ia dapat segera menyerahkan Bendera Pusaka kepada Presiden Soekarno.

 

Sekitar pertengahan bulan Juli 1948, pada pagi hari Bapak Hussein Mutahar menerima pemberitahuan dari Bapak Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard ( sekarang Jl. Diponegoro ) Jakarta, isi pemberitahuan itu adalah bahwa surat pribadi dari Presiden Soekarno yang di tujukan kepada Bapak Hussein Mutahar. Pada sore harinya surat itu diambil beliau dan ternyata benar berasal dari Presiden Soekarno pribadi yang isinya adalah perintah Presiden Soekarno kepada Bapak Hussein Mutahar supaya menyerahkan Bendera Pusaka yang dibawanya kepada Bapak Sudjono, selanjutnya agar Bendera Pusaka tersebut dapat dibawa dan diserahkan kepada Presiden Soekarno di Bangka ( Muntok ).

 

Presiden Soekarno tidak memerintahkan Bapak Hussein Mutahar datang ke Bangka untuk menyerahkan sendiri Bendera Pusaka langsung kepada beliau ( Presiden Soekarno ), tetapi menjadi kerahasiaan perjalanan Bendera Bangka.

 

Sebab orang-orang Republik Indonesia dari Jakarta yang tidak diperbolehkan mengunjungi ketempat pengasingan Presiden pada waktu itu hanyalah waga-warga Delegasi Republik Indonesia, antara lain : Bapak Sudjono, sedangkan bapak Hussein Mutahar bukan sebagai warga Delegasi Republik Indonesia.

 

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Bapak Sudjono ke Bangka, maka dengan meminjam mesin jahit milik seorang istri dokter. Bendera Pusaka yang terpisah menjadi dua dijahit kembali oleh Bapak Hussein Mutahar persis di lubang bekas jahitan aslinya. Tetapi sekitar 2 cm dari ujung bendera ada kesalahan jahit. Selanjutnya Bendera Pusaka ini dibungkus dengan kertas koran dan diserahkan kepada presiden Soekarno dengan Bapak Hussein Mutahar seperti yang di jelaskan diatas.

 

Dengan diserahkannya Bendera Pusaka kepada orang yang diperintahkan Bung Karno maka selesailah tugas penyelamatan Bendera Pusaka oleh Bapak Hussein Mutahar. Setelah berhasil menyelamatkan Bendera Pusaka, beliau tidak lagi menangani masalah pengibaran Bendera Pusaka.

 

*) Sebagai penghargaan atas jasa menyelamatkan Bendera Pusaka yang dilakukan oleh Bapak Hussein Mutahar, Pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan Bintang Mahaputera pada tahun 1961 yang disematkan oleh Presiden Soekarno.

Pinterin

0 / 5

Your page rank:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code