Fonologi Bahasa Jawa

Fonologi Bahasa Jawa

Bahasa Jawa memiliki 23–25 fonem konsonan dan 6–8 fonem vokal. Dialek-dialek bahasa Jawa memiliki kekhasan masing-masing dalam hal fonologi.

Vokal

Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah fonem vokal dalam bahasa Jawa. Menurut ahli bahasa Jawa E. M. Uhlenbeck, bahasa Jawa memiliki enam fonem vokal yang masing-masingnya memiliki dua variasi pengucapan, kecuali fonem pepet /ə/. Pendapat ini disetujui oleh beberapa ahli bahasa Jawa lainnya. Namun, analisis alternatif dari beberapa ahli bahasa menyimpulkan bahwa bahasa Jawa memiliki dua fonem tambahan, yaitu /ɛ/ dan /ɔ/ yang dianggap sebagai fonem mandiri, terpisah dari /e/ dan /o/.

1. Vokal
Depan Madya Belakang
Tertutup i u
Semitertutup e o
Semiterbuka (ɛ) ə (ɔ)
Terbuka a

Mengikuti analisis enam vokal, fonem-fonem di atas memiliki alofon sebagai berikut:

  • Fonem /i/ memiliki dua alofon, yaitu [i] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ɪ] dalam suku kata tertutup.
mari [mari] ‘sembuh’
wit [wɪt] ‘bibit’
  • Fonem /u/ memiliki dua alofon, yaitu [u] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ʊ] dalam suku kata tertutup.
kuru [kuru] ‘kurus’
mung [mʊŋ] ‘hanya’
  • Fonem /e/ memiliki dua alofon, yaitu [e] dan [ɛ] yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup. Dalam suku kata terbuka, /e/ direalisasikan sebagai [ɛ] jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal [i] atau [u], 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal [ə].
saté [sate] ‘satai’
mèri [mɛri] ‘iri’
kalèn [kalɛn] ‘selokan’
  • Fonem /o/ memiliki dua alofon, yaitu [o] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ɔ] yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup. Dalam suku kata terbuka, /o/ direalisasikan sebagai [ɔ] jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal [i] atau [u], 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal [ə].
loro [loro] ‘dua’
kori [kɔri] ‘pintu gerbang’
sorot [sorɔt] ‘cahaya’
  • Fonem /a/ memiliki dua alofon, yaitu alofon [a] yang umumnya muncul dalam suku kata penultima (kedua terakhir) dan antepenultima (ketiga dari akhir), baik yang terbuka maupun yang tertutup, serta alofon [ɔ] yang dapat muncul dalam suku kata terbuka. Dalam suku kata terbuka, /a/ hanya dapat direalisasikan sebagai [ɔ] jika suku kata tersebut berada di akhir kata, atau jika suku kata tersebut merupakan suku kata penultima dari kata yang berakhir dengan /a/.
bali [bʰali] ‘pulang’
kaloka [kalokɔ] ‘termasyhur’
kaya [kɔyɔ] ‘seperti’
  • Fonem /ə/ selalu diucapkan sebagai [ə].
metu [mətu] ‘keluar’
pelem [pələm] ‘mangga’

Konsonan

Bahasa Jawa memiliki 21 fonem konsonan jika hanya menghitung kosakata “asli”. Sekitar 2–4 fonem konsonan tambahan dapat ditemui dalam kata-kata pinjaman. Dalam tabel di bawah ini, fonem dalam tanda kurung menandakan fonem pinjaman.

2. Konsonan
Labial Dental/alveolar[c] Retrofleks Palatal Velar Glotal
Sengau m n ɲ ŋ
Hambat letup/afrikat p b t d ʈ ɖ[d]   k ɡ ʔ
Frikatif[e] (f) s (z) (ʃ) (x) h
Likuida l r
Semivokal w j

Kecuali dalam kluster sengau homorganik, fonem /b/, /d/, /ɖ/, /dʒ/, dan /ɡ/ dalam posisi awal suku kata cenderung diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar daripada biasanya dan hampir tanpa menggetarkan pita suara, sehingga mendekati bunyi [pʰ], [tʰ], [ʈʰ], [tʃʰ], dan [kʰ].Ahli ilmu fonetik Peter Ladefoged dan Ian Maddieson mengistilahkan seri fonem ini sebagai konsonan hambat “bersuara kendur” (slack voiced), kontras dengan seri fonem /p/, /t/, /ʈ/, /tʃ/, dan /k/ yang “bersuara kencang” (stiff voiced). Walaupun keduanya sama-sama diucapkan tanpa menggetarkan pita suara dalam beberapa kondisi, seri konsonan kendur memiliki bukaan pita suara yang lebih lebar daripada seri konsonan kencang. Selain itu, bunyi vokal yang mengikuti seri konsonan kendur juga diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar (breathy voice). Bunyi hambat pada akhir suku kata umumnya diucapkan tanpa letupan (/p/ diucapkan [p̚], /t/ diucapkan [t̚], /k/ diucapkan [k̚], dan seterusnya).

Fonotaktik

Struktur suku kata paling umum dalam bahasa Jawa adalah V, KV, VK, dan KVK. Suku kata dapat pula diawali dengan gabungan konsonan, yang umumnya terbagi menjadi tiga jenis: 1) gabungan konsonan homorganik yang terdiri dari bunyi sengau ditambah bunyi letup bersuara (NKV, NKVK), 2) gabungan konsonan yang terdiri dari bunyi letup ditambah bunyi likuida atau semivokal (KKV, KKVK), dan 3) gabungan konsonan sengau homorganik yang diikuti dengan bunyi likuida dan semivokal (NKKV, NKKVK).

V : ka-é ‘itu’
KV : gula ‘gula’
VK : pa-it ‘pahit’
KVK : ku-lon ‘barat’
KKV (termasuk NKV) : bla-bag ‘papan’, mbo-ten ‘tidak’
KKVK (termasuk NKVK) : prap-ta ‘datang’
NKKVK : ngglam-byar ‘tidak fokus’

Deret konsonan antarvokal umumnya terdiri dari konsonan sengau + letup homorganik (seperti [mp], [mb], [ɲtʃ], dan seterusnya), atau [ŋs]. Bunyi /l/, /r/, dan /j/ dapat pula ditambahkan di akhir deret konsonan semacam ini. Contoh deret konsonan semacam ini adalah wonten ‘ada’, bangsa ‘bangsa’, dan santri ‘santri, Muslim yang taat’. Dalam bahasa Jawa, suku kata sebelum deret konsonan semacam ini secara konvensional dianggap sebagai suku kata terbuka, sebab bunyi /a/ dalam suku kata seperti ini akan mengalami pembulatan menjadi [ɔ]. Kata tampa ‘terima’, misalnya, diucapkan sebagai [tɔmpɔ]. Bandingkan dengan kata tanpa ‘tanpa’ yang diucapkan sebagai [tanpɔ].

Sebagian besar (85%) morfem dalam bahasa Jawa terdiri dari 2 suku kata; morfem sisanya memiliki satu, tiga, atau empat suku kata. Penutur bahasa Jawa memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengubah morfem dengan satu suku kata menjadi morfem dengan dua suku kata. Morfem dengan empat suku kata kadang pula dianalisis sebagai gabungan dua morfem yang masing-masingnya memiliki dua suku kata.

Pinterin

0 / 5

Your page rank:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code