Rangkuman Materi Bahasa Indonesia Kelas 10 Bab 3

Guru Madrasah

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia Kelas 10 Bab 3

Menyampaikan Ide Melalui Anekdot

Teks Anekdot

Anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan.

Anekdot mengangkat cerita tentang orang penting (tokoh masyarakat) atau terkenal berdasarkan kejadian yang sebenarnya.

Kejadian nyata ini kemudian dijadikan dasar cerita lucu dengan menambahkan unsur rekaan.

Seringkali, partisipan (pelaku cerita), tempat kejadian, dan waktu peristiwa dalam anekdot tersebut merupakan hasil rekaan.

Meskipun demikian, ada juga anekdot yang tidak berasal dari kejadian nyata.

Struktur Teks Anekdot

Teks anekdot memiliki struktur sebagai berikut:

  • abstraksi
  • orientasi
  • krisis
  • reaksi
  • koda

Abstraksi adalah latar belakang dan gambaran umum suatu teks.

Orientasi adalah pembukaan dan pengenalan tokoh.

Krisis adalah masalah yang muncul dalam teks anekdot.

Reaksi adalah penyelesaian masalah dalam teks anekdot.

Koda adalah bagian penutup dari anekdot.

Nah agar lebih memahami struktur dari anekdot, perhatikan contoh anekdot dibawah ini ya!

Contoh Teks Anekdot

Berikut ini adalah contoh teks anekdot beserta strukturnya:

BIKIN UNDANG-UNDANG
Dedi datang bertandang pada sepupunya yang bernama Alan, ia berdomisili di sebuah kota. Suatu pagi yang lengang Dodi diajak cari sarapan, mereka naik mobil, tentu Alan yang nyopir. Di perempatan jalan, waduh…, lampu merah menyala, tapi Alan melaju terus, maka itu Dedi menegor sepupunya itu.

Dedi : Lampu merah, mengapa engkau melaju terus?!
Alan : Alah…, tenang aja, di Negeri ini aku bisa bikin Undang-undang kok…!, jawabnya santai..
Dedi : Bagaimana bisa?!, bukankah yang membuat Undang-undang itu DPR plus Pemerintah?!
Alan : (Meminggirkan mobilnya)
Dedi : Mengapa meminggir?!
Alan : Mau menjawab pertanyaanmu!!, jawabnya ketus.
Dedi : Mengapa harus meminggir?!
Alan : (Mobil dihentikan, lalu dirogoh saku celananya serta diambil dompetnya yang tebal itu dan ditaruhnya di depan Dedi seraya berkata): Ini jawabannya!! Sambil menancapkan gas…
Dedi : Oh…!!!

Struktur Anekdot Bikin Undang Undang :
1. Abstraksi : Alan yang menyopir mobil dan melakukan sebuah pelanggaran
2. Orientasi : Dedi dan sepupunya Alan mencari sarapan naik mobil
3. Krisis : Alan menerobos lampu merah yang menyala, Dedi langsung bertanya “lampu merah, mengapa engkau melaju terus?!”
4. Reaksi : Alan berkata “ tenang saja, di Negara ini aku bias bikin undang-undang kok ! dengan cara, (dirogoh saku celananya serta diambil dompetnya yang tebal itu dan ditaruhnya di depan Dodi seraya berkata): Ini jawabannya!! Sambil menancapkan gas…
5. Koda : Dedi menjawab “ Oh….!!!”

contoh anekdot

Unsur Kebahasaan Teks Anekdot

Ada beberapa unsur kebahasaan teks anekdot, yaitu:

  • Kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu
  • Kalimat retoris, yaitu kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban
  • Penggunaan konjungsi yang menyatakan hubungan waktu
  • Penggunaan kata kerja aksi
  • Penggunaan kalimat perintah
  • Penggunaan kalimat seru

Pola Penyajian Teks Anekdot

Secara umum teks anekdot disajikan dalam dua bentuk, yaitu:

  • Dialog
  • Narasi

Kalimat Langsung

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa teks anekdot dapat disajikan dalam bentuk dialog.

Dalam dialog pasti menggunakan kalimat langsung.

Apa kalimat langsung itu?

Kalimat langsung adalah sebuah kalimat yang merupakan hasil kutipan langsung dari pembicaraan seseorang yang sama persis seperti apa yang dikatakannya.

Ciri-ciri kalimat langsung yaitu:

  • Diawali dan diakhiri dengan tanda petik (“ ….”).
  • Huruf awal setelah tanda petik ditulis dengan huruf kapital.
  • Antara pembicara dan apa yang dikatakannya dipisahkan dengan tanda titik dua (:).

Menyajikan Kembali Teks Anekdot Dengan Pola yang Berbeda

Berikut ini adalah contoh dalam menyajikan kembali teks anekdot dengan pola yang berbeda, yang asalnya dari dialog menjadi narasi.

Berikut ini adalah bentuk dalam dialog:

Dosen yang juga Menjadi Pejabat

Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa sedang berbincang-bincang.

Tono : “Saya heran dosen ilmu politik, kalau mengajar selalu duduk, tidak pernah mau berdiri.”

Udin : “Ah, begitu saja diperhatikan sih Ton.”

Tono : “Ya, Udin tahu sebabnya.”

Udin : “Barangkali saja, beliau capek atau kakinya tidak kuat berdiri.”

Tono : “Bukan itu sebabnya, Din. Sebab dia juga seorang pejabat.”

Udin : “Loh, apa hubungannya.”

Tono : “Ya, kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain.”

Udin : “???”

Nah apabila kita ubah menjadi narasi akan menjadi seperti ini:

Dosen yang juga Menjadi Pejabat

Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa sedang berbincang-bincang.

“Saya heran dosen ilmu politik, kalau mengajar selalu duduk, tidak pernah mau berdiri,” kata Tono kepada Udin. Udin ogah-ogahan menjawab pertanyaan Tono. Udin beranggapan bahwa masalah yang dibicarakan Tono itu tidak penting.

Namun, Tono tetap meminta agar Udin mau menerka teka-tekinya. “Barangkali saja, beliau capek atau kakinya tidak kuat berdiri,” jawab Udin merasa jengah. Ternyata jawaban Udin masih juga salah. Menurut Tono, dosen yang juga pejabat itu tidak bersedia berdiri sebab takut kursinya diambil orang lain.”

Mendengar pernyataan Tono, Udin menanyakan apa hubungan antara menjadi dosen dan pejabat. “Ya, kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain,” ungkap Tono. Udin : “???”