Rangkuman Materi PAI Kelas 9 Bab 6

Guru Madrasah

Rangkuman Materi PAI Kelas 9 Bab 6

Kehadiran Islam Mendamaikan Bumi Nusantara

Alur Perjalanan Dakwah di Nusantara

Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di Dunia.

Proses masuknya Islam di Indonesia berjalan secara bertahap dan melalui banyak jalan.

Menurut ahli sejarah, ada beberapa teori-teori tentang kedatangan Islam di Indonesia.

Mari kita bahas satu persatu.

Teori Mekah

Menurut teori Mekah, proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab.

Terjadi pada abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 Masehi.

Mereka datang ke Indonesia dengan motivasi dagang sekaligus berdakwah.

Biasanya mereka bergelar “sayid” atau “syarif” di depan namanya.

Teori Gujarat

Teori ini mengatakan bahwa proses kedatangan Islam berasal dari Gujarat pada abad ke-7 atau abad ke-13 masehi.

Gujarat adalah sebuah wilayah di India bagian barat, berdekatan dengan Laut Arab.

Teori Persia

Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (sekarang bernama Iran).

Bukti teori ini adalah adanya kesamaan tradisi, contohnya tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro.

Teori Cina

Menurut teori ini, kedatangan Islam berasal dari Cina.

Ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7 masehi.

Pada masa dinasti Tang (618-960) di daerah Quanzho, Kanton, Zhang-zhao, dan pesisir Cina Selatan, telah terdapat pemukiman Islam.

Bukti dari teori ini adalah Raja Islam pertama di Jawa, Raden Patah, merupakan keturunan Cina.

Bukti lainnya adalah adanya masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Cina.

Wali Sanga

Agama Islam berkembang di Indonesia disebarkan oleh beberapa golongan, yakni:

  • Para pedagang
  • mubaligh
  • sufi
  • Para Wali

Di materi ini kita akan membahas tentang para wali yang menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa.

Diantara banyak wali, ada sembilan wali yang dikenal sebagai Wali Sanga.

Berikut nama-nama wali tersebut:

  • Sunan Maulana Malik Ibrahim (Syek Maghribi), berasal dari Persia dan berkedudukan di Gresik.
  • Sunan Ampel (Raden Rahmat), berkedudukan di Ampel, Surabaya.
  • Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim), berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.
  • Sunan Giri (Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih), berkedudukan di Bukit Giri, dekat Gresik.
  • Sunan Drajat (Syarifuddin), berkedudukan di Drajat, Surabaya.
  • Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah atau Syek Nurullah), berkedudukan di Gunung Jati, Cirebon.
  • Sunan Kudus (Ja’far Sodiq), berkedudukan di Kudus.
  • Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid), berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak.
  • Sunan Muria (Raden Umar Said), berkedudukan di Gunung Muria, Kudus.

Cara-Cara Dakwah di Nusantara

Para da’i dan mubaligh menyebarkan Islam di Nusantara dengan cara:

Perdagangan

Proses penyebaran Islam melalui jalur perdagangan dilakukan oleh para pedagang muslim pada abad ke-7 sampai abad ke-16 M.

Para pedagang tersebut berasal dari Arab, Persia, dan India.

Para pedagang tersebut sangat jujur sehingga disukai oleh penduduk nusantara dan secara sukarela masuk Islam.

Perkawinan

Pada kala itu banyak pedagang yang menikah dengan pribumi yang berasal dari putri bangsawan atau putri raja.

Sehingga banyak keluarga bangsawan atau raja yang masuk Islam.

Sehingga para pedagang tersebut menetap dan membentuk sebuah perkampungan muslim yang disebut Pekojan.

Pendidikan

Para mubaligh mendirikan lembaga pendidikan Islam di beberapa wilayah Nusantara.

Selama pendidikan mereka tinggal di asrama.

Setelah menyelesaikan pendidikan mereka kembali ke kampung masing-masing untuk menyebarkan Islam.

Hubungan sosial

Para mubaligh pandai berhubungan sosial, mereka terkenal santun dan ramah.

Dalam menyampaikan ajaran Islam mereka menyampaikan dengan cara bijaksana, tidak memaksa dan tidak merendahkan.

Kesenian

Kesenian dan kebudayaan menjadi salah satu cara menyampaikan ajaran Islam.

Contohnya seni bangunan, seni tari, seni pahat, seni ukir, dan seni sastra.

Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang terletak di pesisir timur laut Aceh, kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara sekarang.

Kawasan Aceh yang strategis menjadikan Aceh sebagai tempat pertemuan para pedagang dari berbagai daerah di Nusantara dan luar negeri.

Lahirnya kerajaan ini diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-13 M dan berakhir pada tahun 1524 M.

Raja pertamanya adalah Sultan Malik Al-Saleh.

Kerajaan Aceh

Pendiri kerajaan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528M)

Pada masa sultan ini, Aceh bekerja sama dengan Portugis dan meluaskan wilayah kekuasaan sampai daerah Pidie.

Berikutnya adalah Sultan Alauddin Riayat Syah.

Sultan ini bergelar Al-Qahar.

Berbeda dengan sultan sebelumnya, Sultan Alauddin Riayat Syah justru berusaha melawan Portugis.

Kerajaan Aceh mencapai pucak kejayaan pada masa pemerintahan Iskandar Muda.

Pada masa sultan Iskandar Muda disusun suatu undang-undang tentang tata pemerintahan yang disebut Adat Makuta Alam.

Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1636 M.

Semenjak Sultan Iskandar Muda wafat, Aceh terus menerus mengalami kemunduran.

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak terletak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama dan terbesar di pesisir utara Jawa.

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478 M.

Pada tahun 1518 M, Raden Patah digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus.

Sebelum menduduki tahta, Pati Unus pernah memimpin armada laut Demak dalam menyerang Portugis di Malaka namun gagal.

Setelah kembali dari pertempuran, ia mendapat gelar Pangeran Sabrang Lor.

Kekuasaan Kerajaan Demak berakhir pada tahun  1568 M.

Joko Tingkir memindahkan pusat Kerajaan Demak dari Demak ke Pajang.

Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang terletak di  daerah Kartasura.

Raja pertamanya adalah Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya.

Kerajaan ini berakhir pada 1586 M, setelah Sutawijaya memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram.

Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam berdiri pada tahun 1586 M.

Raja pertamanya adalah Sutawijaya.

Sutawijaya bergelar Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama, yang artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama.

Pusat kerajaan ini terletak di Kotagede, Yogyakarta.

Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan dibawah kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Beberapa prestasi Sultan Agung:

  • Memperluas wilayah kekuasaan meliputi Jawa-Madura, Palembang, Jambi, dan Banjarmasin.
  • Mengatur dan mengawasi wilayahnya yang luas itu langsung dari pemerintah pusatnya.
  • Melakukan kegiatan ekonomi yang bercorak agraris dan maritim.
  • Melakukan mobilisasi militer secara besar-besaran.
  • Mengubah perhitungan tahun Jawa Hindu(Saka) menjadi tahun Islam (hijriyah).
  • Menyusun karya sastra yang cukup terkenal, yaitu Sastra Gending dan Kitab Suluk.
  • Menyusun kitab undang-undang yang merupakan perpaduan dari hukum Islam dengan adat istiadat Jawa yang disebut Surya Alam.

Kerajaan Banjar

Kerajaan Banjar adalah kerajaan Islam yang berada di pulau Kalimantan.

Pusat Kerajaan Banjar yang pertama adalah daerah sekitar Kuin Utara.

Setelah pusat kerajaan ini dihancurkan Belanda, maka pindah ke Martapura.

Kerajaan ini berdiri pada tahun 1526 M.

Raja pertamanya adalah Sultan Suriansyah (Raden Samudera).

Kerajaan Banjar runtuh pada saat berakhirnya Perang Banjar pada tahun 1905M.

Raja terakhirnya adalah Sultan Muhammad Seman.

Kerajaan Gowa-Tallo.

Kerajaan Gowa terbentuk dari sembilan komunitas yang sepakat untuk membentuk sebuah kerajaan.

Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16.

Kerajaan ini populer dengan sebutan kerajaan kembar Gowa dan Tallo.

Dua kerajaan telah menyatakan ikrar bersama, yang terkenal dalam pribahasa Rua Karaeng Na Se’re Ata.

Maka dikenal dengan Kerajaan Makassar.

Pemerintah kerajaan Gowa mencapai puncaknya dibawah kekuasaan Manauntungi Daeng Matolla Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikulsaid atau yang lebih dikenal dengan Sultan Malikulsaid.

Sultan Malikulsaid wafat pada tanggal 16 November 1653 dan digantikan oleh Sultan Hasanuddin.

Sultan Hasanuddin sangat menentang Belanda.

Sehingga sering terjadi peperangan yang akhirnya menjadi perang terbuka.

Dalam peperangan tersebut Belanda sering mengalami kesulitan dalam menundukkan Makassar, sehingga Belanda memperalat Aru Palaka (Raja Bone) untuk mengalahkan Makassar.

Sejak kekalahan Gowa dengan Belanda terutama setelah hancurnya Benteng Somba Apu, pada akhirnya keagungan Gowa mulai mengalami kemunduran.

Kerajaan Ternate

Kerajaan Ternate berdiri pada abad ke-13.

Kerajaan Ternate yang paling maju dibandingkan kerajaan lainnya di wilayah tersebut.

Kerajaan Ternate memiliki banyak rempah-rempah.

Menurut catatan orang Portugis, raja di Maluku yang pertama memeluk Islam adalah Gapi Baguna atau Sultan Mahrum.

Setelah wafat beliau digantikan oleh Zainal Abidin.

Setelah Zainal Abidin yang memerintah adalah Sultan Sirullah, Sultan Khairun, dan Sultan Baabullah.

Kerajaan Tidore

Kerajaan Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di Kota Tidore.

Raja Tidore pertama adalah Syahadati atau Muhammad Naqal.

Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku.

Pada masa ini pula Ternate dan Tidore berhasil bersatu kembali.