Sintaksis Bahasa Indonesia

Sintaksis Bahasa Indonesia

SINTAKSIS

 

 

 

  1. A. PENGERTIAN SINTAKSIS

Dalam Kamus Lingustik  karya Kridalaksana,  Sintaksis  adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan- satuan yang lebih besar atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata. Subsistem bahaya yang mencakup hal tersebut sering dianggap bagian dari gramatika.

 

Dengan perkataan lain, sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari proses pembentukan kalimat atau yang menganalisis kalimat atas bagian-bagiannya.  Sintaksis disebut juga tata kalimat.

 

  1. Frasa

Frasa adalah kelompok kata atau gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif.  Gabungan tersebut dapat rapat maupun renggang.  Misalnya: Danau luas adalah frasa karena kontruksi nonpredikatif. Berbeda dengan Danau itu luas yang bukan frasa karena bersifat predikatif. Dengan kata lain, sebuah frase tidak boleh melebihi batas satu fungsi kalimat. (subjek saja, predikat saja, objek saja, atau keterangan saja).

 

  1. Jenis-jenis Frasa
  •  Frasa Setara (Endosentris Koordinatif)

Frasa setara adalah frasa yang kedua unsurnya sederajat. Tidak mengenal pola

DM/MD. (Diterangkan-Menerangkan)

 

Contoh:

 

anak istri, ayah ibu, hutan rimba, warta berita

 

 

  • Frasa Bertingkat (Endosentris Subordinatif/ Atributif)

Frasa Bertingkat adalah frasa yang kedua unsurnya tidak sama derajatnya. Mengenal pola DM/MD/MDM.

Contoh:

 

calon mahasiswa, rumah presiden, sepasang sepatu tua, meja gambar, baru bangkit

 

 

  • Frasa Eksosentris

Frasa Eksosentri  sadalah  frasa yangterdiri dari unsur penjelas  saja. Frasa ini ditandai dengan adanya kata depan: di, ke, dari.

Contoh:

 

ke kampus, dari perpustakaan, di kelas

 

 

  1. Inti Frasa

Inti frasa adalah bagian frasa yang pokok atau bagian yang diterangkan.

 

Contoh:

 

  1. Pengendalian harga kacang hijau (inti frasa = pengendalian)
  2. b. Lima wanita cantik (inti frasa = wanita)

 

 

  1. Pola Frasa

Pola frasa bisa berada dalam kalimat atau dapat pula berdiri sendiri. Hal ini berkaitan dengan hukum DM/DM dan jenis kata.

Contoh:

 

  1. Gadis cantik = makan lagi

D       M         D     M

  1. b. Kepala sekolah = ayah guru

KB      KB         KB    KB

 

 

  1. b. Klausa

Klausa adalah kelompok kata yang sudah memiliki subjek dan predikat, tetapi belum berintonasi akhir.

 

Contoh:

 

  1. Ibu menyanyi (1 klausa)
  2. b. Ayah tersenyum  (1 klausa)
  3. c. Nenek menjerit (1 klausa)

 

 

  1. Jenis atau Sifat  Klausa
  • Klausa atasan disebut juga klausa pokok atau induk kalimat
  • Klausa bawahan disebut juga keterangan  atau anak kalimat.

 

 

Untuk menentukan klausa atasan dan klausa bawahan, klausa memiliki tanda hubung sebagai penanda awal klausa bawahan. Kata hubung tersebut: sebab, karena; agar, supaya;ketika, sejak, setelah, sesudah; kecuali, selain; bahwa, sehingga, meskipun.

Contoh:

 

Ketika berada di Ambon, Andrean menikah lagi (klausa bawahan, klausa atasan)

 

 

  1. c. Kalimat

Jawaban (B)

 

Kalimat adalah kesatuan  bahasa atau ujaran yang berupa kata atau kumpulan kata disertai intonasi yang menunjukkan bahwa kesatuan itu sudah lengkap.  Kumpulan kata itu berupa satu klausa atau lebih yang ditata menurut pola tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.

  1. Fungsi Kalimat
  • Subjek ialah inti pikiran  kalimat. Menjadi jawab pertanyaan apa/siapa terhadap predikat.
  • Predikat ialah bagian yang menerangkan subjek.
  • Objek ialah bagian kalimat yang berfungsi melengkapi predikat transitif. Berubah menjadi subjek bila dipasifkan

Ada tiga jenis objek, yaitu objek penderita, objek pelaku, dan objek penyerta.

 

Contoh:

 

  1. Para siswa mengerjakan soal ujian. (soal ujian, objek penderita)
  2. b. Ayah membelikan Dewi boneka. (Dewi, objek penyerta; boneka, objek penderita)
  3. c. Majalah itu dibaca oleh Ar (Argha, objek pelaku)

 

  • Pelengkap bagian kalimat yang berfungsi melengkapi predikat intransitif
  • Keterangan  bagian yang memberi keterangan kepada semua fungsi dalam kalimat.

 

 

  1. Pola Kalimat

Maksudnya susunan berdasarkan fungsi kalimat.

 

Contoh:

 

pola SPOK

Peserta SBMPTN akan mengikuti tes sekitar bulan Juni 2015.

S (KB)             P (KKj)     O (KB)          K (Ket)

 

 

  1. Penentuan Inti Kalimat

Penentuan ini meliputi inti subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Inti kalimat merupakan bagian pokok yang biasanya diwakili oleh satu kata.

Contoh:

 

Sebagian calon mahasiwa yang tidak diterima melalui jalur SNMPTN harus mengikuti ujian SBMPTN.

Inti kalimat: Mahasiswa mengikuti ujian. (inti Subjek, inti Predikat, dan inti Objek)

 

  1. Jenis kalimat Berdasarkan Jumlah Unsurnya
  • Kalimat Inti

Kalimat Inti adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua inti yang merupakan unsur pusat, yaitu inti subjek dan inti predikat.Ciri-ciri kalimat inti: berjumlah dua kata, berintonasi normal (kalimat berita), dan bersusunan biasa (S-P).

Contoh:

 

  1. Kami bercengkrama
  2. b. Buruh mengeluh

 

 

  • Kalimat Luas

Kalimat Luas adalah Kalimat Inti yang mendapat perluasan dengan satu atau beberapa unsur penjelas.

Contoh:

 

  1. Kami bercengkrama dengan kawan-kawan semasa sekolah dulu di warung pinggir jalan.
  2. b. Buruh mengeluh kepada Serikat Pekerja Indonesia tentang gajinya yang tidak sesuai dengan UMP.

 

 

  1. Kalimat Transformasi

Kalimat Transformasi adalah kalimat Inti yang telah mengalami perubahan intonasi, perubahan susunan kata, penambahan unsur,  dan dijadikan Kalimat Majemuk Bertingkat.

Contoh:

 

  1. Kami bercengkrama
  2. b. Bercengkrama kami
  3. c. Sambil menunggu guru, kami bercengkrama

 

 

  1. Kalimat Elips

Kalimat Elips adalah kalimat yang kehilangan salah satu atau kedua-duanya unsur pusat tersebut.

Contoh:

 

  1. Ke Jakarta
  2. b. Pergi ke Bali

 

 

  1. Kalimat Minor

Kalimat Minor adalah kalimat yang terdiri dari satu unsur saja.

 

Contoh:

 

  1. Pergi!
  2. b. Dia?

 

 

  1. Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Klausa
  • Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal atau kalimat simpleks adalah kalimat yang hanya mengandung satu klausa atau mempunyai satu objek dan satu predikat.

Contoh:

 

  1. Kita perlu berkreasi.
  2. b. Mahasiswa itu mengadakan p

 

 

  • Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang hubungan antara kedua polanya sederajat.

 

 

Hubungan setara itu dapat diperinci lagi atas:

  1. Setara menggabungkan: kata hubung yang dipakai: dan, lagi, serta, lalu, kemudian

Contoh:

 

Saya membaca novel dan kakak membaca majalah.

 

 

  1. b. Setara memilih: kata hubung yang dipakai atau.

 

Contoh:

 

Engkau ingin tetap di sini atau ikut bersamaku.

 

 

  1. c. Setara mempertentangkan: kata hubung yang dipakai: tetapi, melainkan, sedangkan

Contoh:

 

la tidak pergi ke toko buku, melainkan tidur nyenyak di rumah.

 

 

  1. d. Setara menguatkan: kata tugas yang digunakan, yaitu bahkan, lagipula

 

Contoh:

 

Anak ini pintar bahkan baik budi pekertinya.

 

 

  • Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri atas dua klausa, yaitu klausa atasan dan klausa bawahan.

 

 

Kalimat   kompleks ditandai  dengan  kata  hubung  yang                                                                          menyatakan hubungan:

 

  1. Waktu: tatkala, ketika, waktu, sesudah, setelah, sebelum, dsb.
  2. b. Tujuan: biar ,untuk, supaya, agar
  3. c. Syarat: asalkan, jika, jikalau, bilamana d.     Perlawanan: meskipun, walaupun,dsb. e.      Sebab-akibat: karena, sehingga, sebab.

Contoh:

 

Sebelum hasil perhitungan suara pilpres diumumkan KPU, Pasangan capres dan cawapres nomor urut 1 menyatakan mundur dari proses perhitungan suara.

 

 

Catatan:

  1. Jika induk kalimat mendahului anak kalimat, tidak digunakan tanda koma.
  2. b. Jika anak kalimat mendahului anak kalimat digunakan tanda koma

Anak kalimat, Induk kalimat

  1. c. Dalam kalimat majemuk ada istilah Eksplisit: ada kata penghubung.

 

Contoh:

 

Ketika hujan turun deras, saya tiba di rumah. Implisit: tida ada kata penghubung Contoh: Hujan deras; saya tiba di rumah.

  1. Kalimat Baku

Kalimat baku adalah kalimat yang penulisannya sesuai dengan kaidah bahasa baku serta dapat menyampaikan informasi secara tepat.

Kalimat baku secara prinsip sama dengan kalimat efektif. Karena itu, jika ada soal tentang kalimat efektif, kita mengacu pada ketentuan kalimat baku.

 

  • Ciri-ciri Kalimat Baku

–      Minimal ada Subjek dan Predikat, contoh:

  1. Bagi semua mahasiswa tingkat I harus mendaftar ulang. KPO (tidak baku)
  2. b. Semua mahasiswa tingkat I harus mendaftar ulang. SPO (baku)
  3. c. Bagi semua mahasiswa tingkat I harus didaftar ulang. KPS (baku)

 

 

–      Hemat dalam Penggunaan Kata

 

Contoh:

 

  1. Banyak penonton-penonton kecewa dengan acara yang disajikan. (tidak baku)
  2. b. Penonton-penonton kecewa dengan acara yang disajik (baku)

 

 

–       Logis

 

Contoh:

 

  1. Mayat yang terpotong-potong itu mondar-mandir di Detos. (tidak baku)
  2. b. Sebelum menjadi mayat yang terpotong-potong, ia mondar-mandir di

Detos. (baku)

 

 

–       Sesuai dengan  EYD

 

Contoh:

 

  1. Seorang dokter harus pandai menganalisa pasien. (tidak baku)
  2. b. Seorang dokter harus pandai menganalisis (baku)

 

 

–      Paralel

 

Contoh:

 

  1. Tindak kekejaman, kekerasan, dan menindas adalah perbuatan tidak terpuji.

(tidak baku)

  1. b. Tindak kekejaman, kekerasan, dan penindasan adalah perbuatan tidak t (baku)

 

–    Tidak Ambigu

 

Contoh:

 

  1. Ayah membeli tujuh karung beras. (tidak baku)
  2. b. Ayah membeli beras sebanyak tujuh karung. (baku)

 

 

  1. Memperbaiki Kalimat Tidak Baku
  • Tidak Bersubjek

 

Contoh:

 

  1. Dalam bahasa Indonesia tidak mengenal tensis. KPO (tidak  baku)
  2. b. Dalam bahasa Indonesia tidak dikenal tensis. KPS (baku)

 

 

  • Salah Menggunakan Preposisi

 

Contoh:

 

  1. Ia membicarakan tentang hari perkawinan. (tidak baku)
  2. b. Ia membicarakan hari perk
  3. c. Ia berbicara tentang hari perk (b dan c baku)

 

 

  • Salah Penempatan Keterangan Aspek

Keterangan aspek: ingin, mau, akan, harus, belum, telah, hendak

 

Contoh:

 

  1. Saya ingin bicarakan masalah itu kepada Anda. (tidak baku) b. Saya ingin membicarakan masalah itu kepada Anda. (baku) c.      Ingin saya bicarakan masalah itu kepada Anda. (baku)

 

Pinterin

0 / 5

Your page rank:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code